Membaca Tren Suplai dan Permintaan CPO 2016

Industri sawit tahun depan menuju tren positif. Kenaikan produksi CPO diproyeksi tidak akan naik signifikan. Di sisi lain, permintaan berpotensi meningkat. Ketidakseimbangan suplai dan permintaan membuat harga akan terdongkrak.

Dampak gejala El Nino membayang-bayangi produktivitas sawit pada tahun depan. Sejumlah kalangan pesimis produksi akan naik signifikaN akibat kurusnya tanaman dan kecilnya buah. Derom Bangun, Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) menjelaskan produksi turun lantaran kekeringan yang terjadi di kebun. Sehingga produksi buah betina berkurang dan bertambahnya produksi buah jantan. Akibatnya, produksi buah sawit nasional akan turun sekitar 5%.

“Pembentukan buah dipengaruhi musim kering. Selain itu, tanaman sawit umumnya mengalami stres,” kata Derom.  

Eddy Martono, Ketua Bidang Tata Ruang dan Agraria GAPKI,  memproyeksikan produksi minyak sawit pada 2016 diperkirakan sulit menembus angka 33 juta ton. Untuk tahun ini, GAPKI masih optimis produksi minyak sawit nasional bisa mencapai 33 juta ton.

Dia mengamini proyeksi Derom Bangun bahwa produksi CPO tahun depan bisa terpangkas 5%-10%. Alhasil, produksi sawit bisa sama atau di bawah 33 juta ton seperti tahun ini. Faktor utama adalah iklim  El Nino berkepanjangan yang mempengaruhi produksi pada tahun depan.

Dampak El Nino kepada tanaman baru terasa dalam enam bulan mendatang. Itu sebabnya, produksi sawit tahun depan dibayangi penurunan. Kalaupun ada kenaikan akan ditopang lahan yang ditanam pada 2011 dan 2011 mulai berbuah.  

Derom Bangun menjelaskan faktor yang mempengaruhi produksi CPO tahun 2016 ditopang penambahan lahan baru menghasilkan (mature area) seluas 200 ribu hektare. Usia tanaman ini rata-rata sekitar 4 tahun, 5 tahun dan 6 tahun yang akan menghasilkan mulai tahun depan 2016. “Tanaman muda akan mempengaruhi kenaikan produksi,” kata Derom pada pertengahan November.

Michael Kesuma, Head of Investor Relation PT Sampoerna Agro  Tbk, menyebutkan perusahaan akan mengantisipasi kenaikan produksi pada tahun depan. Namun, bisa saja produksi minus  5% atau tumbuh di atas 5%. Dalam laporan terbuka disebutkan volume produksi perseroan mencatat peningkatan di sembilan bulan pertama tahun ini lebih tinggi dari periode sama tahun lalu. Mulai dari tingkat panen TBS, total volume produksi pada periode ini naik sebesar 5% atau mencapai 1,23 juta ton. Kenaikan produksi TBS didukung oleh peningkatan produksi kebun inti sebesar 14% atau mencapai 691.393 ton pada sembilan bulan pertama.

Kenaikan produksi TBS berdampak positif terhadap output minyak sawit Sampoerna Agro. Pertumbuhan CPO dan palm kernel masing-masing naik sebesar 7%  mencapai 263.985 ton dan 62.428 ton. “Walaupun kondisi cuaca kurang bersahabat, kami mengantisipasi produksi minyak sawit di semester keduatahun ini akan lebih tinggi,” ungkap Marc Louette, Wakil Presiden Direktur Perseroan dalam siaran persnya.

Ditambahkan kembali Marc Loutte, bukan berarti bahwa Perseroan terhindar dari dampak negatif cuaca buruk saat ini, namun terdapat beberapa katalis positif yang mendorong kinerja Sampoerna Agro, seperti profil tanaman yang makin produktif, dan upaya intensifikasi yang sudah menunjukan hasil.

Togar Sitanggang, Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) menjelaskan antara suplai dan permintaan kemungkinan tidak imbang apabila produksi tahun depan tidak naik signifikan. Ditambahkan Togar apabila produksi produksi minyak sawit nasional menghadapi tekanan maka stok milik produsen terpaksa dikeluarkan. Akibatnya, dikatakan  Togar, stok akhir tahun 2016 berpotensi makin sedikit bahkan habis.

(Selengkapnya baca Majalah SAWIT INDONESIA Edisi 15 November-15 Desember 2015)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.