Ganoderma Mengancam Sawit Sumsel : Mati 10 Pokok Per Ha Setara Kerugian Rp 20 Miliar Per Tahun Per Estate

Ganoderma benar-benar menjadi monster yang mengerikan karena mengancam investasi perkebunan sawit di Indonesia termasuk wilayah Sumatera Selatan. Jamur pathogen yang lebih dikenal dengan Ganoderma boninense ini mempunyai daya rusak yang luar biasa apabila sudah menginfeksi batang sawit dimana pangkal batang akan busuk dan tumbang.  

Penyakit yang ditimbulkan akibat jamur ini sering disebut dengan istilah busuk pangkal batang atau Basal Stem Rot (BSR) dan apabila terjadi di batang atas disebut Upper Stem Rot (USR). Keduanya terjadi disebabkan karena translokasi air dan hara terputus akibat rusaknya lignin pada batang sawit.

Heri DB sebagai praktisi sawit mengatakan bahwa kerugian kebun akibat serangan Ganoderma dapat dihitung dengan sangat sederhana sebagai berikut; apabila tanaman mati 10 pokok per ha saja maka dengan standar produksi tanaman 200 kilogram per pokok pokok per tahun, maka kerugian per hektare per tahun adalah 2.000 kilogram. Dengan asumsi harga TBS Rp 1.000 rupiah jelas akan membuat kerugian per hektare per tahun sebesar Rp 2 juta atau untuk satu estate mencapai 10.000 hektare kerugian akibat serangan jamur Ganoderma ini sudah mencapai Rp 20 miliar. Suatu angka yang sangat besar yang apabila terus dibiarkan tanpa antisipasi pencegahan maka hampir dipastikan jamur tular tanah ini akan terus memperluas serangan dengan menggerogoti populasi sawit yang pada akhirnya menimbulkan kerugian besar pada investasi perkebunan sawit.

Anggapan selama ini bahwa serangan Ganoderma hanya terjadi pada tanaman gererasi tua usia 60–80 tahun, saat ini telah dipatahkan dengan fakta bahwa serangan terjadi juga pada tanaman generasi pertama atau usia dibawah 25 tahun baik di Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Bangka-Belitung, Jambi, Lampung, bahkan di Kalimantan.
Berdasarkan pengamatan tim R&D PT Mitra Sukses Agrindo kerusakan akibat jamur patogen lebih banyak dijumpai pada tanah-tanah bekas tanaman karet, kelapa atau tanah-tanah dengan tekstur pasir. Ancaman Ganoderma ini tidak main-main karena fakta serangan yang sudah terjadi sangat massif dijumpai di Sumatera Utara, dimana pada usia tanaman 8 tahun tanpa upaya penanggungan yang berarti populasi tinggal 60%.

Penyebab utama merebaknya infeksi Ganoderma yang dirasakan sekarang hampir dipastikan karena kerusakan agroekosistem dalam tanah perkebunan, dimana musuh alami jamur pathogen semakin berkurang akibat tekanan lingkungan termasuk penggunaan produk kimia berlebihan. Sementara, penyebaran spora Ganoderma melalui air, angin & serangga terus terjadi. Menurut Darmono Taniwiryono, pakar Ganoderma, mengatakan bahwa wabah spora Ganoderma sudah seperti “kabut asap” yang siap menginfeksi tanaman sawit di mana saja apabila pertahanan musuh alaminya lemah.

Adanya tanaman inang sebelumnya seperti bekas karet dan kelapa akan memperparah tingkat serangan karena Ganoderma yang selama ini dorman menemukan lingkungan untuk berkembang tanpa hambatan musuh alami yang berarti. Musuh alami yang seharusnya dipertahankan dalam tanah perkebunan adalah keberadaan Trichoderma.

Terkait persoalan Ganoderma, PT Mitra Sukses Agrindo adalah perusahaan yang bergerak di bidang produk berbasis bio bekerjasama dengan PT ASTICA MAS sebagai distributor tunggal. Keduanya menyelenggarakan grand launching produk NOGAN yaitu biofungisida berbasis Trichoderma untuk mengendalikan Ganoderma pada 7 April 2014 di Hotel Royal Asia, Palembang, Sumatera Selatan.
Launching ini dilengkapi dengan seminar bertemakan Ganoderma, Bahaya dan Pengendaliannya, yang menghadirkan pembicara; Dr. Ir. Darmono Taniwiryono, M.Sc sebagai

Direktur Ganoderma Center-Indonesia yang juga peneliti dan akademisi Bioteknologi Perkebunan Bogor. Kalangan praktisi dan pelaku sawit di wilayah Sumatera Selatan datang ke acara ini.

Heri DB, Direktur Utama PT Mitra Sukses Agrindo selaku principle produk NOGAN meresmikan peluncuran produk biofungisida tersebut. Pada kesempatan ini disampaikan alasan utama mengapa biofungisida NOGAN dibutuhkan perkebunan sawit khususnya yang berada di Sumatera Selatan, antara lain :
Fakta saat ini Ganoderma telah mulai menginfeksi tanaman sawit muda generasi pertama yaitu usia dibawah 25 tahun,

Gejala serangan awal Ganoderma sering tidak mudah terdeteksi karena penularan yang utama melalui akar sehingga sulit menentukan batas penyebarannya,
Apabila tidak dikendalikan, kehancuran populasi sawit bisa mencapai 60% (Ganoderma Center, 2011),
Serangan Ganoderma menurunkan produksi dan diduga juga menurunkan rendemen minyak sawit atau CPO,

Populasi musuh alami Ganoderma di perkebunan sawit umumnya relatif rendah, akibat penggunaan produk kimia yang berlebihan.
NOGAN diaplikasikan di kebun dalam rangka melipatgandakan Trichoderma secara sangat cepat untuk menghentikan serangan Ganoderma, sekaligus untuk membuat tanaman vigor dan cepat recovery.

Biofungisida NOGAN merupakan biofungisida yang berbasis Trichoderma selektif dan sudah teruji mampu mengendalikan Ganoderma. Trichoderma selektif tersebut adalah Trichoderma harzianum, Trichoderma pseudokoningii dan Trichoderma viride.

NOGAN yang telah mengantongi izin Kementan RI dengan no RI.01020120124308 dan Patent No D002011002534 menawarkan berbagai macam keunggulan sebagai berikut :
NOGAN mudah diaplikasikan karena berbentuk serbuk sehingga cukup ditabur tanpa banyak merubah budaya kerja kebun
NOGAN membuat tanaman menjadi lebih vigor (tanaman kuat dan sehat) karena diformulasi dengan carrier yang mengandung hormon pertumbuhan, asam-asam amino dan antibiotika

NOGAN meningkatkan populasi Trichoderma yang merupakan musuh alami Ganoderma di zona perakaran sawit dengan sangat cepat karena diformulasi dengan food base kualitas tinggi yang sangat sinergi
Bahan pembawa atau carrier dalam NOGAN terseleksi, aman dalam penyimpanan dan transportasi serta tidak mengundang hama seperti tikus dan babi di lapangan
NOGAN mengandung Induser chitin yang mampu merangsang Trichoderma menghasilkan enzyme chitinase yang dapat menghancurkan dinding sel Ganoderma yang terbuat dari senyawa chitin dengan sangat efektif.

Syarif Bastaman, Direktur R&D Pt Mitra Sukses Agrindo mengatakan dalam mengendalikan Ganoderma pada kelapa sawit, mekanisme kerja yang terjadi dari aplikasi NOGAN adalah sebagai berikut :
1. Trichoderma dalam NOGAN memenangkan persaingan di dalam tanah melalui :
– Perebutan tempat khususnya di wilayah permukaan akar
– Pembentukan koloni secara lebih cepat
2. Bahan pembawa yang kaya akan asam-asam amino, asam humat, antibiotika dan asam organik dalam NOGAN mampu merangsang pertumbuhan akar-akar baru
3. Meningkatkan kekebalan tanaman sawit dimana enzim hidrolitik yang dikeluarkan oleh Trichoderma merangsang tanaman mengeluarkan antibodi berupa fitoaleksin dan terpenoid
4. Trichoderma menyerang Ganoderma secara mematikan
– Enzim chitinase dan glucanase yang dihasilkan oleh Trichoderma akan merusak dinding sel Ganoderma
– Terjadi inaktivasi enzim lignase yang dihasilkan Ganoderma.

Heri DB mengatakan Trichoderma sebagai musuh alami Ganoderma sudah seharusnya hadir dalam tanah dengan jumlah populasi cukup. Apabila kondisi ekosistem berada pada keseimbangan alamiah maka pergerakan Ganoderma dalam tanah semestinya dapat dihentikan oleh Trichoderma sebelum sampai pada batang sawit. Hal ini adalah siklus alamiah yang terjadi pada kondisi agroekosistem bekerja baik. Namun pada kondisi tanaman sudah terinfeksi dan agroekosistem tidak bekerja baik. Maka harus ada upaya perbaikan dalam bentuk perbanyakan musuh alami secara cepat untuk kepentingan ini dianjurkan penggunaan NOGAN sebaiknya diaplikasikan sejak di pembibitan, pada lubang tanam serta untuk TBM dan TM. Hal ini penting untuk memastikan populasi musuh alami Ganoderma tetap tersedia dalam tanah.

Sebagai praktisi sawit dengan pengalaman lebih dari 25 tahun, Heri DB menganjurkan apabila sudah menempatkan Ganoderma menjadi masalah serius untuk segera diatasi. Selanjutnya langkah pertama harus tercermin dalam struktur organisasi dimana manajemen sebaiknya membentuk divisi atau tim khusus pengendalian Ganoderma dengan tugas pokok antara lain ; 1) Investigasi kebun bersama pakar Ganoderma, 2) Training staf terkait gejala dan pengendalian Ganoderma, 3) Antisipasi menggunakan biofungisida berbasis Trichoderma NOGAN, 4) Mengembalikan bahan organik ke lapangan seperti jangkos dalam bentuk kompos matang, 5) Merekomendasikan substitusi sebagian pupuk kimia dengan pupuk organik mikroba berbasis pH tinggi. Dengan penanganan fokus ini akan membuat evaluasi terhadap kemajuan pekerjaan lebih mudah dilakukan dan hasilnya segera dirasakan.

Tanah dan tanaman adalah aset penting dan utama yang harus diselamatkan dari segala bentuk ancaman termasuk dari jamur pathogen Ganoderma, dimana jamur ini menyebabkan sakit tidak hanya pada tanaman tapi juga tanahnya. Pesan kami secara khusus bagi kebun yang akan melakukan peremajaan, sebaiknya lima tahun sebelumnya (H-5) dilakukan langkah perbaikan secara terprogram terhadap tanah dengan target menjadi subur dan sehat. Subur berarti memenuhi kriteria kesuburan tanah seperti C-organik, pH, KTK.

“Sehat berarti bebas infeksi Ganoderma atau tersedia cukup populasi Trichoderma dalam tanah, dengan demikian kita telah menyiapkan media tumbuh tanaman yang baik untuk waktu 25 tahun mendatang,” pungkas Heri DB mengakhiri pembicaraan. (Tim Penulis PT Mitra Sukses Agrindo)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.