Ganoderma Dikendalikan, Produksi CPO Terjaga

Serangan ganoderma telah menjadi masalah nasional akibat kerugian ekonomis dan  non ekonomis yang ditimbulkan. Kerugian negara akibat ganoderma diperkirakan US$ 256 juta per tahun. Untuk itu, pengendalian ganoderma perlu dilakukan secara masif dan terintegrasi  supaya hasil  produksi  minyak sawit tetap optimal.

Suswono, Menteri Pertanian, mengatakan, ganoderma atau yang dikenal juga jamur akar merah berpotensi menekan posisi Indonesia sebagai produsen minyak sawit utama di dunia. Serangan ganoderma akan terjadi terhadap perkebunan kelapa sawit yang telah diremajakan (replanting) beberapa kali. Contohnya saja, perkebunan kelapa sawit di Lampung rentan terhadap jamur ganoderma karena rata-rata perkebunan di sana telah direplanting lebih dari tiga kali.  

“Ganoderma menyerang perkebunan negara, perkebunan swasta, hingga perkebunan rakyat,” kata Suswono.

Agus Susanto, Peneliti Pusat Penelitian Kelapa Sawit, dalam makalahnya memaparkan hubungan ganoderma dan tanaman kelapa sawit telah mengalami perkembangan luar biasa karena tanaman kelapa sawit dijalankan dengan sistem monokultur dalam skala luas. Selama beberapa dekade, telah terjadi perubahan cepat dari aspek kejadian penyakit dan distribusi, gejala dan patogenisitas, serta epidemi penyakit. Lahan yang terkena ganoderma tidak lagi tanah mineral melainkan pula tanah gambut. 

Saat ini, lanjut Agus Susanto, terdapat kecenderungan patogen ganoderma berpotensi menyerang tanaman yang berada di tanah miskin unsur hara. 

Ganoderma boninense termasuk jamur ke dalam golongan Basidiomisetes yang memiliki sifat tular tanah. Dalam tulisannya, Kepala Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, memaparkan patogen ini sulit dikendalikan  di perkebunan  sawit karena mempunyai  alat pertahanan  diri seperti psedosklerosia, basidiospora, dan tubuh buah. Dengan kemampuan yang dimilikinya, ganoderma dapat menciptakan tubuh  buah dan  menginfeksi bibit tanaman sawit. Bahkan, patogen ini mampu tetap bertahan selama beberapa generasi sehingga dapat menginfeksi tanaman kelapa sawit. 

Akibat dari serangan ganoderma, tanaman akan terinfeksi penyakit busuk pangkal batang yang dapat membuat pohon kelapa sawit menjadi  tumbang. Darmono menyatakan ganoderma merupakan patogen penyakit tanaman busuk pangkal batang (basal stem rot) dan busuk batang atas (upper stem rot). Tak hanya  itu, ganoderma menyerang akar sawit sehingga mengganggu pasokan hara dan air kepada tanaman. 

Agus Susanto menjelaskan awalnya patogen ini diduga menyerang  tanaman menghasilkan saja tetapi semenjak  sepuluh tahun terakhir  ganoderma berdampak serius kepada satu atau lebih dari  dua generasi  tanaman.  Bahkan, ganoderma menyerang  pula tanaman sawit yang belum menghasilkan dengan umur di bawah satu  tahun. Untuk tanaman sawit belum menghasilkan, penyakit terjadi pada generasi pertama, kedua, ketiga, dan keempat masing-masing 0,4,7,11%. Sementara tanaman sawit menghasilkan, penyakit timbul pada generasi pertama, kedua, dan ketiga masing-masing 17,18, dan 75%. 

Dampak buruk Ganoderma

Agus Susanto menambahkan terdapat dua macam kerugian yang ditimbulkan ganoderma. Pertama, kerugian langsung yang terkait dengan rendahnya produksi karena matinya tanaman. Lalu kerugian tidak  langsung berupa penurunan berat buah kelapa sawit, selain mengakibatkan berat batang tanaman berkurang yang  berujung kepada tidak berbuahnya  tanaman. Hampir semua  perkebunan di Indonesia terserang jamur ganoderma dengan kejadian berbeda-beda. Provinsi yang  paling dirugikan adalah Aceh, Sumatera Utara, Lampung, dan Riau. 

Suswono menjelaskan serangan ganoderma membuat kerugian materil cukup besar terhadap perkebunan kelapa sawit. Dari total luas lahan 8,3 juta hektare, apabila tingkat serangan sebesar 1% dapat membuat kerugian lebih dari Rp 2 triliun per tahun. “Bahkan, tingkat serangan bisa mencapai lebih dari 2%, khususnya perkebunan yang mengalami peremajaan beberapa kali,” kata dia.

Dalam hitungan Darmono Taniwiryono, kerugian yang cukup signifikan dialami perkebunan sawit yang  telah dilakukan penanaman lebih dari dua generasi. Tingkat serangan ganoderma diperkirakan mencapai 60%. Sedangkan, tingkat serangan rata-rata 1 persen, kerugian nasional diperkirakan mencapai US$ 256 juta per tahun. 

Contoh kasus,  perkebunan sawit di Sumatera Utara yang terserang ganoderma berpotensi kehilangan 70 pohon dari 130 pohon per hektare. Padahal, satu pohon bernilai Rp 2,6 juta, jika dihitung semuanya total kerugian mencapai Rp 473,2 juta per hektare. “Tiap tahun, rata-rata serangan ganoderma di Sumatera Utara telah mendekati  angka 20%,” papar Darmono.

Tingginya kerugian yang diakibatkan ganoderma, menurut Darmono, karena patogen ini bekerja pada komponen produksi utama yakni penurunan bobot dan penurunan  jumlah buah yang  dipanen setiap tahun. Berkurangnya jumlah buah per tahun dipengaruhi penundaan pembukaan daun, sementara penurunan bobot tandan akibat perkembangan daun yang pucat dan kerdil. Keduanya ini terkait erat dengan berkurangnya kemampuan menyerap air dan unsur hara. Lambat laun ganoderma akan berkembang yang berakibat kepada matinya tanaman dan produksi buah terhenti.

Menyikapi masalah  ini, Suswono menghimbau penanggulangan secepatnya serangan ganoderma dengan meminta optimalisasi peranan dari pakar. 

Darmono mengungkapkan butuh biaya besar untuk mengendalikan ganoderma karena hampir semua daerah  di Indonesia telah terkontaminasi. Untuk itu, dia mendorong pengendalian yang terintegrasi supaya ganoderma tidak merugikan  produksi minyak sawit nasional. (ym)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.