Dr. Lim Jung Lee, Presiden Direktur PT Syngenta Indonesia: Pengendalian Gulma Efektif di Perkebunan

Di Indonesia, nama Gramoxone sudah tidak asing lagi di telinga pelaku usaha pertanian dan perkebunan sebagai herbisida pengendali gulma. Dr. Lim Jung Lee, Presiden Direktur PT Syngenta Indonesia menyebutkan gulma menjadi masalah utama di sektor perkebunan. Gulma yang biasa ditemui di perkebunan sawit terdiri dari rumput-rumputan, gulma berdaun lebar, dan paku-pakuan. Bahan aktif Gramoxone adalah parakuat.

“Gramoxone ini punya reaksi cepat dalam pengendalian gulma. Produk kami mampu mengatasi gulma yang sulit dikendalikan seperti anakan sawit liar dan paku-pakuan. Sudah 50 tahun lamanya, Gramoxone berperan penting untuk mengendalikan gulma secara terintegrasi,” jelas pemegang gelar  PhD studi Biology – Entomology di  Universitas Sains Malaysia, Penang.   

Dr. Lim menuturkan pengembangan produk terus berjalan sesuai kebutuhan pasar. Khususnya pengembangan dari aspek keamanan produk bagi pengguna dan lingkungan. Terdapat tiga kunci utama yang membuat produk ini aman untuk digunakan petani/pekerja kebun. Pertama, warna produk berbeda dengan herbisida lain dan produk makanan/minuman. Kedua,  Gramoxone punya zat pembau. Ketiga, ada zat emetik yang bermanfaat menjadi zat pemuntah  ketika cairan Gramoxone tertelan tidak sengaja. 

Dari aspek lingkungan, Dr. Lim menjamin Gramoxone aman bagi lingkungan. Karena bahan aktif yang terkandung di dalamnya bersifat nol residu. Artinya, tidak ada residu yang mempengaruhi air dan tanah bahkan tidak menghasilkan limbah. Selain itu, bahan aktifnya tidak diserap oleh akar tanaman.

“Kami sangat peduli dengan keamanan lingkungan. Hampir 7 tahun lamanya, perusahaan membuat riset mengenai dampak produk kepada lingkungan. Dan orang kebun (sawit) sudah tahu bahwa Gramoxone itu nol residu,” tegasnya.

Mengenai tuduhan negatif terhadap parakuat di negara lain, dia tidak terlalu mempermasalahkan isu tersebut karena bagian dari persaingan global. Dalam prinsip dan kriteria RSPO disebutkan bahwa produsen (grower) sawit diminta mengurangi penggunaan parakuat. “Kami menghormati keputusan mereka karena palm oil  diekspor ke Uni Eropa,” kata pria yang sudah berkecimpung 34 tahun di dunia pertanian.

Dr. Lim optimis keputusan sejumlah perusahaan kelapa sawit di Indonesia yang mengurangi parakuat secara bertahap, tidak berpengaruh besar kepada penjualan. Pangsa pasar penjualan Gramoxone di segmen perkebunan sawit sekitar 15%. Produk ini lebih banyak digunakan di tanaman pangan dan hortikultura.

Berikut ini petikan wawancara Tim Redaksi SAWIT INDONESIA dengan Dr. Lim Jung Lee, Presiden Direktur PT. Syngenta Indonesia yang didampingi Midzon Johannis selaku  Capability Lead Syngenta ASEAN dan Indonesia dan Dominique Caressa, Business Development Manager PT. Syngenta Indonesia, pada awal Maret di Jakarta.  Dalam pandangan Dr. Lim, walaupun kampanye negatif terhadap parakuat gencar dilakukan tetapi bahan aktif ini tetap menjadi tool utama dalam pengendalian gulma

                                                                                                ••

Bagaimana peranan Syngenta untuk membantu  pelaku industri sawit dalam pengendalian hama maupun penyakit?

Jadi begini, saya mulai dengan menjelaskan bahwa di perkebunan seluruh Indonesia sekitar 75 persen yang menjadi masalah adalah gulma, disusul hama tikus 20 persen, dan  hama serta penyakit lainnya  5 persen.

Masalah gulma di perkebuann terbagi atas tiga kategori, pertama adalah rumput, kedua daun lebar, dan ketiga adalah gulma yang sulit untuk dikendalikan seperti alang-alang dan paku-pakuan.

Secara bisnis, kami fokus mengawal masalah gulma yang terjadi di perkebunan. Produk kami bisa mengendalikan anakan sawit liar. Keunggulan Gramoxone yaitu pertama mampu bereaksi cepat untuk mengawal gulma; kedua,  spektrum lebih luas untuk mengawal rumput serta gulma. Ketiga  tidak akan terbawa air pada saat hujan turun.

Keempat, Gramonone punya kemampuan pengendalian gulma yang sulit dikendalikan antara lain paku-pakuan dan anakan sawit liar.  Disinilah keistimewaan Gramoxone selama 50 tahun lebih yang berfungsi sebagai  alat utama  mengawal gulma secara terintegrasi.

Selama kurun waktu 50 tahun, apa saja pengembangan yang dilakukan dalam produk Gramoxone ini ?

Setelah 50 tahun, kami fokus kepada pengembangan formulasi. Bagaimana caranya formulasi  lebih efektif, lalu membuat bahan aktif tetap efektif ketika musim hujan. Formulasi itu akan terus dikembangkan.

(Midzon Johannis menambahkan formulasi Gramoxone memerhatikan aspek keamanan bagi pengguna. Ini terlihat  warna cairan Gramoxone berwarna biru tua supaya tidak sama dengan produk lain. Warna Gramoxone berbeda dengah produk makanan dan minuman.

Kedua, zat pembau di dalam cairan Gramoxone  supaya pengguna berhati-hati dalam aplikasi. Berikutnya, kandugan zat emetik yang berguna sebagai zat pemuntah ketika cairan tertelan tanpa sengaja. Ini yang kami sebutkan sebagai zat pengaman dalam formulasi Gramoxone ini.)

Artinya, tiga unsur pengaman ini bagian dari pengembangan formulasi Gramoxone ?

Ya, ini bagian dari pengembangan  kami. Pada sepuluh tahun pertama tidak ada, tapi setelah lima belas tahun baru ditambahkan pewarna, pembau, dan zat emetik. Selain itu, kami berikan safe use training dengan pertimbangan herbisida ini bahan beracun sehingga tidak boleh main-main dalam penggunaannya. 

(Ditambahkan Midzon,  kami memberikan pelatihan supaya petani/pengguna memahami   penggunaan pestisida  sesuai tertera di  label mengenai safety, dosis penggunaan semuanya sudah ada. Tepat dosis, tepat sasaran, tepat waktu aplikasi, itu semua harus tepat, itu rekomendasinya sesuai hasil riset. Ini yang kami ajarkan kepada petani.

Kami juga memberikan pelatihan khusus untuk memelihara alat aplikasi herbisida supaya tidak bocor. Kemudian persoalan higienis, jadi orang harus yakin bahwa dalam penggunaan pestisida kondisi badannya dalam keadaan sehat. Setelah aplikasi Gramoxone disarankan cuci tangan. Sebenarnya ini standar yang sederhana. Berikutnya adalah menggunakan pakaian safety)

Bagaimana dukungan perusahaan terhadap pelaksanaan tata kelola sawit yang berkelanjutan?

Jelas kami sangat mendukung aspek lingkungan dan keberlanjutan seperti keanekaragaman hayati dan pencegahan degradasi lahan yang menjadi perhatian kami. Dalam kurun waktu 50 tahun ini , tidak ada bukti dampak penggunaan Gramoxone kepada  lingkungan. Di lapangan bisa terlihat setelah penyemprotan dan kontak dengan tanah ternyata bahan aktif benar-benar menyerap. Jadi, tidak ada residu yang akan memengaruhi organisme tanah, tidak berdampak kepada  air,  dan tidak menghasilkan limbah di perairan.

Gramoxone ini juga bersifat nol residu.  Bahan aktifnya tidak akan terserap akar tanaman karena  punya ikatan yang kuat sehingga sangat aman.   

Bagi Syngenta, kami sangat serius menjaga  perlindungan lingkungan dan selama 7 tahun menjalani riset pada kenyataannya yang paling mahal adalah riset lingkungan. Kami melakukan riset mengenai efek dari molekul setelah dilakukan penyemprotan.  Apabila ada molekul yang bersifat sangat toksik dan tidak baik di lapangan maka molekul tersebut tidak akan masuk ke dalam produk kami.

Kedua, riset lingkungan mengenai efek biorganisme di tanah, lalu efek terhadap hewan, dampaknya kepada kesehatan manusia, dan pengaruhnya bagi rantai makanan serta kehidupan satwa liar.  

Riset untuk satu produk sampai bisa dirilis antara US$ 200 juta sampai US$ 250 juta termasuk Gramoxone. Pasca dilepas ke pasar masih ada kegiatan pengawasan untuk meningkatkan mutu produk yang sudah beredar di pasar.

(Lebih lengkap baca Majalah SAWIT INDONESIA Edisi 15 Maret-15 April 2016)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.