Darmono Taniwiryono, Direktur Ganoderma Center Dan Wakil Ketua Umum Maksi: Pengembangan Teknik Penyediaan Bibit Sawit Dengan Media Bebas Ganoderma

Serangan Ganoderma pada perkebunan kelapa sawit telah menjadi permasalahan yang besar bahkan dapat menghancurkan kejayaan komoditas sawit di tanah air. Kekuatan serangan penyakit tanaman tidak boleh disepelekan. Sejarah serangan penyakit Phytophthora palmivora pada kentang di Irlandia Utara pada kurun waktu antara tahun 1845 s/d 1850 telah mengakibatkan 1.029.552 orang tewas mati kelaparan dan sebanyak 1.180.409 orang berimigrasi. Adanya serangan Microcyclus Ulei pada daun tanaman karet telah mengakibatkan hancurnya dan tidak berkembangnya perkebunan karet di daerah Amerika Tropis, tempat dari mana tanaman karet berasal.  

Penanganan Ganoderma di perkebunan kelapa sawit perlu dilakukan dengan penuh komitmen karena di beberapa sentra sawit serangannya sudah bersifat endemik. Penularan Ganoderma dapat terjadi baik melalui kontak akar maupun melalui spora yang diterbangkan oleh angin, terbawa aliran air hujan, terbawa serangga dan binatang.  Bibit sawit yang dikembangkan di daerah endemik Ganoderma berpotensi sebagai pembawa inokulum Ganoderma. Oleh karena itu, penyiapan bibit sawit di daerah endemik Ganoderma harus ekstra hati-hati.

Teknologi penyiapan media tanam bebas Ganoderma telah dikembangkan oleh Tim Ganoderma Center, Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI) bekerjasama dengan PT Perkebunan Nusantara IV dan telah diterbitkan di Internasional Palm  Oil Coference (IPOC) pada tahun 2010 di Yogyakarta.  Latar belakang pengembangan teknologi ini adalah bahwa untuk mendapatkan top soil untuk keperluan pembibitan sudah semakin sulit dan biayanya semakin mahal karena semakin jauhnya jarak angkut ke lokasi pembibitan. Jika diperoleh dari lokasi sekitar kebun sawit yang ada dikhawatirkan sudah tertular oleh inokulum Ganoderma.  

Topsoil dan permasalahannya

Arti topsoil yang terkait dengan usaha pembibitan tanaman pertanian dan perkebunan pada umumnya adalah tanah berhumus dan sehat yang diperoleh dari dalam hutan, dari ke dalam 5-10 cm.  Tanah yang demikian dijamin memiliki kesuburan dan kesehatan yang tinggi karena kandungan bahan organik dan biota tanahnya tinggi. Pada beberapa publikasi tentang perkebunan kelapa sawit, topsoil lebih sering diartikan sebagai tanah yang ada pada lapisan atas, dari kedalaman 5-10 cm tanpa mempertimbangkan apakah tanahnya sehat atau tidak. 

Pada lahan pembibitan kelapa sawit di daerah pembukaan baru, topsoil yang berhumus dan sehat, masih mudah diperoleh.  Namun untuk pembibitan yang dibangun berada di areal perkebunan kelapa sawit untuk mendapatkan topsoil yang berhumus dan sehat memerlukan biaya transportasi  mahal karena pada umumnya jauh dari lokasi hutan.

Untuk pembibitan yang dibangun di areal perkebunan kelapa sawit dengan tingkat infestasi Ganoderma yang tinggi. Sebaiknya perlu diwaspadai aktivitas tenaga kerja yang mungkin dapat menyebabkan bibit menjadi terkontaminasi oleh inokulum Ganoderma diantaranya adalah menggunakan topsoil, seresah dan atau kompos sembarangan dari dalam kebun tanaman dewasa terserang berat Ganoderma, dan menggunakan air parit yang mengalir dari kebun untuk keperluan penyiraman bibit.  Inokulum Ganoderma yang sangat potensial untuk menjadi sumber penularan di bibit adalah berupa sisa-sisa akar atau tunggul sawit yang secara tidak sengaja terbawa ke lokasi pembibitan dan tercampur dengan media tanam di polybag. Jika terpaksa harus menggunakan topsoil di areal perkebunan yang terserang berat oleh Ganoderma, maka topsoil yang digunakan harus betul-betul terbebas dari sisa-sisa perakaran dan tunggul sawit.

PENGGUNAAN SUBSOIL DAN KOMPOS TKKS

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu dicari alternatif lain yaitu dengan menggunakan subsoil dicampur dengan kompos TKKS.  Dasar pemikirannya adalah inokulum Ganoderma pada umumnya lebih terkonsentrasi di lapisan topsoil di mana terdapat massa perakaran tanaman yang cukup padat sehingga kemungkinan terinfeksi dan menjadi tempat Ganoderma bertahan di dalamnya tinggi.  Ganoderma pada dasarnya merupakan patogen lemah, tidak bisa bertahan lama dalam kondisi bebas.  Hal inilah pembeda utama dari Rigidoporus Lignosus, penyebab  penyakit jamur akar putih, yang mampu membentuk rhizomorph menjalar bebas di dalam tanah meskipun tetap harus berpangkal pada substratnya. Di dalam tanah Ganoderma hidup dan bertahan lama di dalam jaringan inangnya di dalam perlindungan pseudo sclerotium. Bagian sub soil yang dianggap cukup bebas dari infestasi Ganoderma adalah yang berada pada kedalaman satu meter atau lebih.  Sub soil umumnya terdiri dari komponen mineral murni tidak tercampur oleh bahan organik.

Oleh karena subsoil memiliki kandungan bahan organik yang rendah, maka supaya kandungan bahan organiknya bisa setara atau lebih tinggi dari topsoil, sebaiknya harus ditambah bahan organik berupa kompos. Di perkebunan kelapa sawit, ketersediaan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sangat melimpah dan bisa dikomposkan menjadi kompos bioaktif untuk kemudian dicampur dengan subsoil menjadi media tanam yang kualitasnya lebih bagus dari topsoil yang dikenal selama ini.

Kompos TKKS bioaktif disiapkan dengan mencacah TKKS kemudian dikomposkan menggunakan bioaktivator yang mengandung Trichoderma Harzianum DT 38 dan T.Pseudokoningii DT 39, dalam jangka waktu selama 6 minggu. Selama proses pengomposan, kelembapan harus dijaga stabil antara 50%-60% dan tumpukan hanya dibalik setiap 2 minggu sekali. Kedua isolate Trichoderma tersebut telah terbukti efektif mengendalikan Ganoderma Boninense. Yang dimaksud Ganoderma Boninense adalah Ganoderma patogenik penyebab penyakit busuk pangkal batang sawit. 

Uji coba penggunaan campuran antara subsoil dan kompos bioaktif yang kemudian diperkaya lagi dengan cendawan mikoriza telah dilakukan pada skala besar dengan melibatkan lebih dari 8.000 bibit sawit dengan hasil yang sangat memuaskan.  Pada Gambar terlihat bahwa bibit sawit di sebelah kiri yang dipelihara pada media campuran sub soil dan kompos bioaktif pertumbuhannya lebih jagur dibandingkan dengan bibit sawit yang dipelihara sesuai dengan prosedur yang selama ini dilakukan.

CARA PENYIAPAN CAMPURAN 

Tidak ada perbedaan yang signifikan antara prosedur yang selama ini ada untuk penyiapan pembibitan. Pekerjaan tambahan yang ada hanyalah pencampuran antara subsoil dan kompos TKKS bioaktif dengan perbandingan 2:1 (volume/volume).  Sebelum dicampur, kompos harus digiling halus agar waktu dilakukan pencampuran dengan subsoil dapat tercampur secara homogen. Jika terpaksa tidak dilakukan penggulingan, kompos TKKS bioaktif dapat ditambahkan  ke dalam polybag sedemikian rupa sehingga susunannya menyerupai “sandwich”, di mana kompos diletakkan dibagian tengah diapit oleh sub soil. Jika pengomposan TKKS tersebut dilakukan secara sempurna, penurunan volume media di dalam polybag tidak terjadi. 

 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.