Edisi 23 September 2013

Momentum Pemanfaatan Biodiesel Sawit

Salam Sawit Indonesia, Sebagai bagian dari paket penyelamatan dari krisis finasial, pemerintah membuat paket kebijakan ekonomi beberapa waktu lalu. Salah satu isi dari kebijakan tersebut adalah meningkatkan pemakaian biodiesel sampai 10% untuk menggantikan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar. Keputusan ini mendapatkan sambutan luar biasa dari kalangan produsen biodiesel yang kegiatannya sempat lesu beberapa tahun terakhir. Sebelum ada mandatori, pemakaian biodiesel di dalam negeri terbilang kecil. Tahun lalu saja, sektor transportasi baru menggunakan biodiesel sekitar 690 kiloliter. Padahal, kapasitas terpasang biodiesel Indonesia  sudah mencapai 5,6 juta kiloliter, ini berarti konsumsinya baru sekitar 12%. 

Lewat kebijakan mandatori biodiesel yang sekarang diberlakukan, pemakaian biodiesel diperkirakan dapat naik signifikan sampai 3 juta kiloliter. Angka ini dapat tercapai asalkan pelaku usaha dari sektor otomotif, pembangkit listrik dan industri lain,berkomitmen memakai biodiesel sawit.  Intinya, pemerintah wajib melindungi kebijakan penggunaan biofuel misalkan diberikan insentif kepada penggunanya. 

Tanpa adanya campur tangan pemerintah, akan sulit untuk meningkatkan pemakaian biodiesel. Di Jerman dan Brazil, kesadaran untuk menggunakan biofuel telah lama berjalan. Hal ini disebabkan, mereka berkeinginan untuk tidak mau bergantung kepada suplai minyak bumi impor. Sekarang, beranikah pemerintah Indonesia mengikuti langkah kedua negara tersebut?

Di edisi ini, kami khusus mengulas PT Anam Koto yang merupakan pemain baru kelapa sawit di Indonesia. Mulai tahun 1998, perusahaan membangun bisnis sawitnya secara bertahap lewat take over pabrik. Kejelian Chandra Wijaya dalam membaca peluang adalah faktor kunci. Setelah berhasil mengembangkan PT Technindo Contromatra bersama saudaranya, Chandra Wijaya dapat dikatakan sukses menjajaki bisnis sawit. Ini terbukti dari omsetnya yang mencapai Rp 1 triliun pada tahun kemarin. 

Di rubrik Sosok, kami mewawancarai Paulus Tjakrawan sebagai Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI). Dalam wawancara tersebut, dirinya meminta pemerintah untuk mendukung penuh industri biofuel. Dengan alasan, bahan bakar terbarukan ini akan menyokong ketahanan energi di dalam negeri tanpa harus impor dari negara lain. Langkah ini perlu diambil secara cepat dan tegas kalau BBM impor tadi akan membawa mudarat kepada bangsa ini.

Pembaca yang terhormat, kami berupaya memperbaiki isi dan kualitas desain  Majalah Sawit Indonesia dari edisi ke edisi. Dengan harapan, beragam informasi terbaru dan aktual dapat dibaca. Oleh karena itu, kami membuka diri untuk setiap saran dan masukan dari pembaca yang dapat ditujukan ke alamat email kami. Semoga informasi yang kami berikan dapat bermanfaat. Terimakasih.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.