Edisi 17 Maret 2013

Pembuktian  Industri Sawit, SALAM SAWIT INDONESIA, Bulan Maret menjadi bulan yang sangat spesial bagi sembilan perusahaan  kelapa sawit yang menerima sertifikat Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Penyerahan perdana sertifikat ini langsung diberikan  oleh Suswono selaku Menteri Pertanian Republik Indonesia. Hal ini merupakan bukti kebijakan  sertifikasi ISPO bukanlah kebijakan main-main dan  sifatnya jangka panjang. 

ISPO menjadi jawaban  terhadap sikap pesismisme masyarakat yang berpandangan negatif kepada industri kelapa sawit nasional. Pandangan  ini tidak datang begitu saja melainkan berasal dari   informasi negatif yang gencar disosialisasikan NGO anti-sawit. Isunya pun selalu berubah-ubah mulai dari kesehatan, kerusakan hutan,  penggunaan  lahan gambut, emisi   gas rumah kaca, mengganggu habitat  orang utan maupun  gajah,  dan pencemaran lingkungan. Padahal, tidak semua pelaku industri  sawit menjadi  penyebab semua masalah ini,  tetapi kenapa tanaman asli Afrika ini yang  selalu diposisikan menjadi  sumber kerusakan dunia. 

Toh, pelaku industri sawit bukanlah orang suci yang tidak terlepas dari kesalahan. Namun, bukan berarti mereka tidak dapat memperbaiki tata kelola kebun yang kemungkinan belum berorientasi pro  lingkungan dan sosial. Sertifikasi ISPO menjadi alat tepat supaya pelaku sawit tunduk  dan taat dalam menjalankan regulasi yang mengatur mereka supaya pengelolaan kebun yang baik dapat diimplementasikan. Bukan sebaliknya, menjalankan kebun  serampangan dan lebih memprioritaskan keuntungan. Oleh karena itu, pemberian sertifikat perdana ISPO membuktikan keseriusan dan  komitmen pemangku kepentingan sawit nasional kepada dunia.

Rubrik Utama edisi Maret, ulasan pengendali produk kumbang tanduk menjadi pilihan kami untuk disajikan kepada pembaca.  Daya kerusakan yang ditimbulkan  kumbang tanduk sangatlah besar karena dapat menghambat pertumbuhan tanaman belum menghasilkan. Padahal, tahapan tersebut merupakan fase kritis yang dapat menjadi tolak ukur produksi CPO di masa mendatang. Itu sebabnya, kami hadirkan tiga perusahaan pestisida yang telah lama mempromosikan produk pembasmi kumbang tanduk.

Di edisi Hot Issue, pengembangan  industri  sawit di Kalimantan Selatan sangatlah menarik untuk dibahas lebih mendalam. Sebab, provinsi ini termasuk daerah yang pengembangan  lahan sawitnya tergolong  lambat  dari provinsi  lain  di Kalimantan Selatan. Sampai akhir  2012, jumlah perusahaan  kelapa sawit swasta diperkirakan  baru mencapai 64 perusahaan  dan total luas konsesi lahan sawit disana mencapai  585.084 hektare. Walaupun, masih sedikit luas perkebunan sawitnya tetapi dua refineri sudah berdiri  di provinsi tersebut. Mengapa, daerah ini dipilih pelaku hilir sawit? Jawabannya dapat terlihat  dalam tulisan kami.

 Semoga, edisi ini memberikan pencerahan dan informasi positif kepada pembaca. Sehingga, majalah ini tidak akan terbit sia-sia begitu saja. Selamat Membaca !! 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.