Sawit Sumber Ketahanan Negara

NUSA DUA, SAWIT INDONESIA – Industri sawit merupakan kekuatan bagi negara dan sangat penting bagi Indonesia. Karena itu, sawit harus ditetapkan salah satu komoditas strategis.  

“Sawit merupakan kekuatan bagi negara karena berfungsi sebagai bahan pangan dan energi. Selain itu sawit secara ekonomi memberikan kontribusi besar terhadap devisa negara dan memberikan penghidupan bagi masyarakat, “ kata Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI, dalam pembukaan Indonesian Palm Oil Conference and 2016 Price Outlook (IPOC), di Nusa Dua, Kamis (26/7).

Wakil presiden memaparkan, pertama, kelapa sawit  menjadi sumber dari oil and fat untuk mencukupi kebutuhan pangan dunia ini. Kedua, Indonesia punya andil sebagai produsen terbesar CPO di pasar global. 
“Selanjutnya,  industri sawit memberikan kontribusi bagi pendapatan dan lapangan kerja terbesar di luar tanaman padi,” katanya.
Karena itu,kata Jusuf Kalla,  pemerintah mendukung keberlanjutan industri sawit untuk kebutuhan pangan serta energi di dalam dan luar negeri. “Khususnya sebagai sumber devisa negara dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat,” kata Jusuf Kalla. 

Sementara itu, Joko Supriyono, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), meminta pemerintah menetapkan industri kelapa sawit sebagai komoditas strategis.  Penetapan industri sawit sebagai komoditas strategis berdasarkan sejumlah pertimbangan. 

“Pertama,industri sawit mampu berkontribusi besar bagi perekonomian negara. Dari segi penyerapan tenaga kerja,  industri membuka lapangan kerja kepada 4 juta kepala keluarga dimana sekitar 16 juta orang mengandalkan hidup dari industri sawit. Kedua, industri sawit mampu mengentaskan kemiskinan di pedesaan,” ujar Joko Supriyono dalam sambutan.

Ketiga, kelapa sawit punya peranan penting dalam membantu pemerataan pembangunan daerah karena perkebunan sawit banyak dibuka di luar pulau jawa. Alhasil, banyak provinsi dan kabupaten baru  di luar Jawa  yang awalnya berasalnya dari perkebunan kelapa sawit.  
Dari sisi pemasukan devisa, kata Joko Supriyono, minyak sawit sebagai penghasil devisa terbesar non migas sekitar US$ 21 miliar dolar  pada 2014 atau 13,4 persen dari nilai total ekspor. 

Luhut Panjaitan , Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, menegaskan industri sawit telah menjadi industri yang strategis dengan kontribusi besarnya bagi pemasukan negara dan pembukaan lapangan kerja. 

Semenjak awal, pemerintah mendukung pengembangan mandatori biodiesel di sektor transportasi dan energi. Program mandatori ini bertujuan baik untuk meningkatkan hilirisasi  industri sawit dan nilai tambah kelapa sawit. Jusuf Kalla menambahkan bahwa pemerintah memberikan kesempatan besar bagi program biodiesel untuk tumbuh dengan adanya kewajiban Pertamina untuk menyerap biodiesel.

Beberapa waktu lalu, Pertamina sudah menandatangani kontrak pembelian biodiesel dengan sejumlah produsen. Langkah ini, kata Jusuf Kalla, sangat baik untuk menjaga suplai dan permintaan sehingga pertumbuhan ekonomi negara terus membaik. 

Di pasar dunia, Indonesia dan Malaysia menghasilkan produksi sawit 90 persen dari total pasokan dunia. Jusuf Kalla menyebutkan bahwa dunia punya kepentingan terhadap industri sawit yang berperan besar besar bagi pasokan pangan dan ekonomi dunia. Di forum APEC, mantan Ketua Umum PMI ini, meminta produk komoditas seperti kelapa sawit dan karet adalah development goods. Oleh karena itu, sudah semestinya komoditas ini tidak mendapatkan perlakuan diskriminasi.

“Dengan dampak besar yang diberikan kepada ekonomi sudah semestinya industri sawit harus didukung bersama,” pinta Jusuf Kalla. 
Untuk memfasilitasi pengembangan industri, pemerintah berencana membangun sejumlah pelabuhan di beberapa daerah supaya kegiatan ekspor dapat meningkat. Hal ini bertujuan memberikan nilai tambah industri dan pendapatan devisa lebih besar. 

Ditambahkan Jusuf Kalla bahwa pemerintah menyadari naik turunnya industri sawit bisa mempengaruhi pendapatan mayarakat dan negara secara keseluruhan. “Harapan kami palm oil akan memberikan kontribusi lebih baik kepada masyarakat,” kata JK.

“Ke depan, kebutuhan minyak sawit terus tumbuh sejalan dengan pertambahan populasi penduduk dan pendapatan manusia dari tahun ke tahun. Industri ini menjadi sumber pasar dan kekuatan yang berhubungan dengan industri makanan,” jelas JK.

Oleh karena itu, Luhut Panjaitan menegaskan bahwa industri sawit harus dilindungi dari kampanye negatif berkaitan isu lingkungan dan kesehatan.  Pemerintah tidak ingin didikte kepentingan asing dan punya kedaulatan  untuk mengatur negara sendiri. 

“LSM jangan mengatur-atur kita mengenai monyet. Ini kita monyet kepala hitam bagaimana. Pemerintah tidak segan-segan melarang NGO atau lembaga lain yang melakukan kampanye negatif terhadap industri sawit dan menganggu stabilitas negara,”tegas Luhut.

Sumber foto: istimewa

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.