Restorasi Gambut Mustahil Dilakukan, Ini Solusinya

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Kalangan akademisi dan pengamat tidak merekomendasikan restorasi untuk pemulihan lahan gambut yang terbakar dan rusak. Restorasi dinilai kurang efektif karena butuh biaya banyak dan lamanya masa perbaikan gambut. Akan lebih baik lahan gambut yang rusak dan terbakar ditanami pohon seperti karet dan kelapa sawit.

Supiandi Sabiham, Guru Besar Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan Institut Pertanian Bogor (IPB), menjelaskan kegiatan restorasi  membutuhkan waktu lebih lama dan berbiaya besar. Restorasi diperkirakan bisa memakan waktu 50 tahun.

Apa yang dikatakan Supiandi bisa jadi benar. Dalam satu kesempatan, Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI menyebutkan biaya restorasi gambut dapat mencapai US$ 200 juta (sekitar Rp 2,6 triliun kurs Rp 13.000). Rencananya, sumber dana restorasi diambil dari hibah program REDD+ yang berasal dari kerjasama Indonesia dan Norwegia berkaitan moratorium gambut.

Penanganan restorasi, kata Jusuf Kalla, dibawah satu badan khusus yang bertugas selama lima tahun. Badan ini ditargetkan dapat merestorasi lahan gambut seluas 2 juta sampai 3 juta hektare.

Dalam pandangan Peneliti Bidang Botani Pusat Penelitian Biologi LIPI Tukirin Partomihardjo, mengatakan restorasi  areal gambut  sulit dilakukan karena tatanan ekologi dari areal yang terbakar sudah hancur sehingga butuh waktu lama untuk memulihkan tanah. Selain itu, tidak adanya mikroba yang dapat membantu dekomposisi organisme mati untuk memberikan daya bagi tumbuhan di atasnya.

“Butuh waktu ribuan tahun lamanya untuk mengembalikan ekosistem asli gambut. Restorasi gambut sulit untuk dilakukan,” kata Tukirin dalam diskusi publik Hasil Penelitian LIPI Terkait Kebakaran Hutan: Kebijakan, Dampak dan Solusi yang dilaksanakan di Gedung LIPI, Jakarta, pada pertengahan November.

Tukirin sangsi bahwa lahan gambut dapat kembali dipulihkan lantaran terbakarnya media  dan sumber yang dapat menjadikan gambut seperti sedia kala. Untuk itu, dia mengusulkan supaya lahan gambut yang rusak ditanami kembali walaupun jenis tanaman bukan seperti aslinya. Tanaman seperti meranti batu, pohon ramin,  meranti bunga, gerunggang, nyato, tidak akan tumbuh lagi. Kalaupun lahan gambut dibiarkan begitu saja akan tumbuh tanaman paku-pakuan namun fungsi ekosistem gambut tidak bisa kembali.

“Jenis tanaman bisa ditanami sifatnya toleran dengan habitat lingkungan yang sudah berubah misalkan karet dan kelapa sawit. tanaman ini berguna bagi manusia, memang tak akan merehabilitasi ekosistem gambut tetapi bisa menghijaukan,” ujar Tukirin dalam sebuah wawancara dengan koran nasional.

Supiandi menyarankan pemulihan lahan gambut yang sudah rusak bisa melalui tanaman pertanian dan perkebunan. Pemilihan jenis tanaman sangat bergantung dari ketebalan gambut. Untuk tanaman pangan sangat cocok lahan gambut tipis dekat dari sungai. Sementara itu, lahan gambut tebal dapat memanfaatkan tanaman perkebunan seperti kelapa sawit dan karet.

Untuk pengelolaan lahan gambut, Lullie Melling, Peneliti Tropical Peat Research Laboratory, membuktikan bahwa gambut bisa digunakan asalkan melalui teknologi yang benar. Caranya, pertama kali gambut dibuka memakai teknologi pemadatan. Supaya daya kapiler gambut tetap terjaga alhasil gambut tetap lembab.

Kunci keberhasilan tata kelola gambut adalah menjaga lahan gambut tetap lembab bukan basah.  Jika lahan terlalu basah, ujar Lullie, mengakibatkan pertumbuhan tanaman tidak sempurna menjadi kerdil. Kelembapan ini berguna pula mengantisipasi kebakaran di lahan gambut. “Kalau ada lahan gambut yang ingin dikeringkan harus tahu bagian yang tepat. Jangan sampai semua dikeringkan bisa menimbulkan kebakaran,” papar Lullie.

 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.