Nilai Tukar Petani Kebun Anjlok, Pemerintah Minim Tindakan

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Melemahnya harga komoditas berdampak negatif kepada Nilai Tukar Petani (NTP) sektor perkebunan. INDEF mencatat penurunan NTP terjadi di semua sektor pertanian baik di sektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan rakyat, peternakan, maupun perikanan.

Dibandingkan dengan posisi bulan Oktober 2014 saat pemerintahan baru dilantik posisi NTP pada bulan Juli 2015 adalah sebagai berikut: tanaman pangan turun dari 98,14 menjadi 97,29; hortikultura dari 103,22 menjadi 100,97; perkebunan rakyat turun dari 101,23 menjadi 97,78; peternakan turun dari 108,56 menjadi 107,29; perikanan turun dari 103,61 menjadi 102,27.

Dari data tersebut perkebunan rakyat menjadi sektor yang mengalami penurunan NTP paling tinggi. Anjloknya harga komoditas global seperti kopi, kakao, karet, dan sawit merupakan faktor utama, karena komoditas-komoditas tersebut mayoritas dimiliki petani rakyat.

“Iya, jadi yang turun itu kebetulan mayoritas perkebunan rakyat. Pertama yang hancur harganya adalah karet 85 persen, kopi 90 persen, kakao 95 persen rakyat, sawit hanya 41 persen tapi meskipun turun tapi turunnya tidak seberapa,” jelas Bustanul Ekonom Pertanian Institute of Development Economic and Finance (INDEF), ketika ditemui dalam acara konferensi pers bertajuk “Indikator Kesejahteraan Memburuk” pada Senin (24/8).

Bustanul menambahkan selain anjloknya harga komoditas, penurunan NTP juga turut disebabkan kondisi ekonomi dimana nilai tukar rupiah yang sedang melemah ditambah tingginya tingkat inflasi sehingga menurunkan daya beli masyarakat.

“Secara konsep memang masih mampu dipermasalahkan soal NTP ini, tapi saat ini indeks NTP mampu dijadikan indikator untuk melihat tingkat kesejahteraan masyarakat,” kata Bustanul Arifin,

Enny Sri Hartati, Ekonom Indef menilai program Nawacita dari pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla (JK) sangatlah buruk, bahkan semakin kontradiktif. Hal itu disebabkan kinerja ekonomi pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat sepanjang semester I-2015 ini belum terlihat dengan jelas.

“Kembali melambat pertumbuhan ekonomi kuartal II-2015 bagi target kesejahteraan sosial dan ekonomi. Upah riil buruh tani turun, jumlah pengangguran dan kemiskinan yang semakin besar, jurang ketimpangan yang cenderung melebar, sehingga tergerusnya berbagai indikator fundamental perekonomian yang membuat gejolak ekonomi global defisit,” kata Enny. (Anggar Septiadi)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.