Memalukan, Produk Unilever Indonesia Belum Berlabel RSPO

JAKARTA, SAWITINDONESIA – Anggota RSPO dari industri consumer goods seperti Unilever dan Nestle diragukan komitmennya dalam pembelian minyak sawit bersertifikat atau Certified Sustainable Palm Oil (CSPO). Ini terbukti, tidak ada satupun produk Unilever yang dijual di Indonesia punya label RSPO trademark di kemasannya.

Hal ini terungkap dalam Diskusi yang bertemakan “Sawit Berkelanjutan, Pilihan Gaya Hidup Konsumen Indonesia”, di Jakarta, pada Rabu (10/6). Davina Veronica, Aktivis Champion #BeliYangBaik,  mempertanyakan kenapa hanya Body Shop Indonesia yang menjual sabun berlogo RSPO. “Kemana anggota  RSPO lain di Indonesia, kok tidak menempelkan logo juga?” tanya Davina.

Desi Kusumadewi, Direktur RSPO Indonesia, mengakui baru Body Shop yang sabunnya berlabel RSPO di  Indonesia. Itu sebabnya, dia meminta industri consumer goods lain seperti Unilever supaya menempelkan logo RSPO di produknya. “Unilever Indonesia memang belum ada logo RSPO Trademark di produknya,” kata Desi.

RSPO Trademark adalah logo yang membuktikan produk tersebu mendukung dan mengimplementasikan standar prinsip sawit berkelanjutan sesuai standar RSPO. Logo ini dapat digunakan industri manufaktur dan konsumer sebagai pengguna minyak sawit.

Ketiadaan  logo RSPO menandakan Unilever belum sama sekali membeli CSPO dari produsen di Indonesia. Itu sebabnya, komitmen Unilever sebagai salah satu pendiri RSPO dipertanyakan. Sebagai bagian Unilever Grup sudah sepantasnya Unilever Indonesia  juga berpartisipasi membeli CSPO. Kalau begitu, mana janji Unilever untuk membeli penuh CSPO?

Sebagai informasi, produk turunan minyak sawit menghasilkan beragam produk perawatan tubuh dan makanan (consumer goods) seperti sabun mandi, sabun cuci, pasta gigi, shampoo, margarin, coklat sampai es krim.  

Unilever memiliki 39 brand produk yang dijual di Indonesia. Dari total jumlah produk tadi, hampir 71% adalah  produk perawatan tubuh dan rumah (home and personal care). Sisanya sekitar 29% produk makanan dan minuman.

Awal Jun, anggota RSPO di Uni Eropa dari kalangan  industri manufaktur berjanji menggunakan 100% CSPO pada 2020. Namun, langkah ini sebuah kemunduran karena mereka berjanji konsumsi 100% CSPO pada 2015 ini. Edi Suhardi, Koordinator Kaukus Indonesia Grower RSPO, merasa kecewa dengan deklarasi ini karena tidak membantu peningkatan permintaan CSPO. 

“Kuncinya sekarang bagaimana pasar pembelian bisa bergerak. Makanya, kita tidak bisa bergantung kepada Eropa. Tiap tahun, permintaan CPO Eropa hanya 6 juta ton,” jelas Edi.

Desi Kusumadewi menegaskan kalangan produsen tidak bisa menunggu lima tahun lagi. “Mereka minta minyak sawit bersertifikat dibeli seluruhnya sekarang,” pungkas Desi.    

 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.