LIPI Ciptakan Bioplastik Sawit

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Pusat Penelitian Kimia LIPI membuat inovasi  bioplastik dari plasticizer yang berasal dari turunan kelapa sawit sehingga  dapat terurai.

Agus Haryono, Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI mengatakan  lembaganya juga menciptakan plasticizer yang berasal dari turunan minyak sawit. Plazticizer adalah bahan kimia yang ditambahkan ke dalam formulasi plastik untuk menambahkan sifat kelenturannya terutama untuk plastik polivinil klorida (PVC).

“Beberapa jenis platicizer yang umum digunakan dapat menyebabkan gangguan reproduksi atau gangguan hormonal pada manusia, sementara plasticizer turunan minyak sawit mempunyai sifat yang lebih aman untuk digunakan,” kata Agus.

Selain itu, dilakukan pengembangan bioplastik ini dikembangkan dengan menggunakan bahan dari tapioka, selulosa dan poliasam laktat.

“Bioplastik ini bisa menjadi alternatif pengganti plastik konvensional, karena sifatnya yang mudah terurai secara sempurna oleh mikroba yang ada di dalam tanah atau air. Bioplastik dapat terurai dalam waktu yang relatif pendek, sehingga permasalah lingkungan bisa teratasi,” ungkapnya dalam siaran pers LIPI.

Secara konvensional Agus mengungkapkan bahwa pembuatan plastik dibuat dari minyak bumi yang telah melalui proses polimerisasi dengan ikatan kimia pada polimer tersebut sangat kuat dan sulit diputuskan. Sehingga dibutuhkan waktu lama untuk mengurainya, belum komposisi pembuatan plastik konvensional menggunakan berbagai bahan kimia lain seperti plasticizer, antioksidan, stabilizer atau zat aditif lainnya.

LIPI mencatat saat ini konsumsi plastik di Indonesia perkapita sudah mencapai 17 kilogram per tahun dengan pertumbuhan konsumsi mencapai 6 hingga 7 persen. Indonesia bahkan sudah menjadi negara terbesar kedua di dunia yang membuang sampah plastik ke lautan.
“Penggunaan plastik yang tidak benar dan tidak sesuai kegunaanya bisa berpotensi membahayakan kesehatan manusia. Berbagai jenis bahan kimia tambahan serta monomer yang tersisa yang tak bereaksi pada plastik bisa menyebabkan berbagai bahaya kesehatan seperti penyakit kanker, gangguan reproduksi, radang paru-paru,” terang Agus. (Anggar Septiadi)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.