Ini Strategi Pemerintahan Jokowi Hadapi Perubahan  Iklim  

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Pemerintah Indonesia berkomitmen menghadapi masalah perubahan iklim dunia. Sejumlah kebijakan telah dibuat sebagai bagian kelanjutan COP 21 seperti program mandatori biodiesel, pengurangan subsidi BBM, pengelolaan sampah menjadi sumber energi, penerapan one map policy.

Darmin Nasution, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menjelaskan di dalam COP 21 Paris negara-negara telah mencapai kesepakatan untuk menjaga rata-rata suhu Bumi dibawah 20C. Indonesia telah menyampaikan Intended National Determined Contributions bahwa Indonesia lebih mendorong pengurangan emisi dari hutan dan lahan, transportasi, industri dan sampah.

Dalam hal ini, kata Darmin, Presiden RI menekankan untuk melakukan langkah-langkah mengurangi gas rumah kaca antara lain pengurangan subsidi BBM, pengelolaan sampah menjadi sumber energi, penerapan one map policy, review izin gambut, mengatasi illegal fishing dan melestarikan sumberdaya laut.

Di Sektor energi, Indonesia mendorong green energi dengan mendorong mandatory biodiesel 15% pada 2015 dan menjadi 20% pada akhir tahun 2016 sebagai upaya mendapatkan produk yang lebih sustainable.

Menurut Darmin, persoalan perubahan iklim harus dikerjakan secara bersama-sama dan simultan oleh semua sektor.“Upaya dari berbagai sektor dan kerjasama dengan negara lain serta komitmen negara maju untuk memberikan kontribusi kepada negara berkembang sangat diperlukan”, ucap Darmin dalam pembukaan Festival Iklim 2016, di Jakarta Convention Center, pada Senin (1/2).

Siti Nurbaya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, mengatakan agenda perubahan iklim harus dilihat dari dua sisi, pertama amanat UUD untuk menyediakan lingkungan yang baik bagi generasi mendatang. Kedua, agenda perubahan iklim sesuai kebutuhan dunia.

Ada tiga aspek penting yang disampaikan dalam Festival Iklim ini yaitu: 1. Terbangunnya komitmen bersama untuk menerjemahkan hasil COP, 2. Mengkomunikasikan lintas pihak, dan 3.

“Dalam rangkaian agenda festival iklim ini diharapkan bahwa konteks dan konten perubahan iklim dapat dipahami oleh masyarakat, bukan hanya omongan politik dan dokumen saja, tapi ayo kita kerjakan bersama-sama”, ucap Siti Nurbaya.

Dalam pembukaan Festival Iklim ini  dihadiri pula UN Resident Coordinator Douglas Broderick, Duta Besar Amerika Serikat Robert O. Blake, Duta Besar Norwegia Stig Traavik, pejabat eselon I dan II Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, para pakar, tamu undangan, masyarakat adat, LSM, dan peserta seminar. Festival ini berlangsung dari 1-4 Februari 2016.

Sumber foto: Istimewa

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.