Kontribusi Kelapa Sawit Sebagai Pilar Perekonomian Bangsa

Makna Pilar Ekonomi

Pilar, lazimnya secara bahasa, dapat digambarkan sebagai tiang yang besar dan kokoh untuk menyangga beban sehingga terwujud suatu unit bangunan yang berfungsi menaungi atau melindungi penghuninya.  Pilar memiliki peran yang sangat sentral dan menentukan, karena bila pilar ini tidak kokoh akan berakibat robohnya bangunan yang disangganya. Demikian pula halnya dengan bangunan bangsa dan negara, membutuhkan pilar yang kokoh agar rakyat yang mendiami akan merasa nyaman, aman, tenteram dan sejahtera. Pilar bagi suatu bangsa dan negara juga dapat berupa sistem yang berisi konsep, prinsip dan nilai yang dianut olehnya yang diyakini memiliki kekuatan untuk dipergunakan sebagai landasan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sementara itu dalam konteks perekonomian Indonesia, yang dapat diharapkan menjadi pilar adalah sektor-sektor atau lapangan usaha tertentu yang memberikan kontribusi dalam perolehan Produk Domestik Bruto (PDB). Aspek lain yang dapat dijadikan pendukung pilar perekonomian diantaranya adalah yang dapat memberikan kontribusi dalam penyerapan tenaga kerja dan nilai ekspor.

Program pembangunan perekonomian bangsa Indonesia oleh Pemerintah RI dituangkan melalui Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) yang sesudah melewati lima kali Pelita (25 tahun), harapan tersebut belum tercapai akibat krisis finansial pada tahun 1997 yang berlanjut dengan krisis ekonomi. 

Namun demikian kita pantas bersyukur, karena sektor pertanian pada saat tersebut menjadi salah satu penyelamat utama perekonomian di Indonesia. Berbicara mengenai peranan sektor pertanian pada saat krisis tersebut, tidak akan lengkap jika tidak melibatkan peranan subsektor perkebunan khususnya kelapa sawit. 

Peranan Kelapa Sawit dalam Perekonomian Indonesia

Dipandang dari segi sejarah pada masa lalu, peranan (share) sektor pertanian dalam sebagian indikator ekonomi Indonesia digambarkan dengan peranannya dalam perolehan PDB, penyerapan tenaga kerja dan perolehan hasil ekspor dan lain-lain adalah sebagai berikut.

Pertama. Peranannya dalam PDB pada awal berdirinya NKRI cukup besar (>50%), namun dengan adanya upaya pembangunan sektor-sektor yang lebih maju (misalnya industri dan jasa) menyebabkan kecenderungan terjadinya penurunan peranan pertanian; pada tahun 1960, 1973, 1980, 1990, 2004 berturut-turut adalah 54%, 41%, 24,8% 19,6% dan 14,3%. Dalam kurun waktu lebih dari empat dasawarsa terlihat bahwa peranan sektor pertanian pada tahap awal relatif besar mulai lebih dari 50% menjadi hanya tinggal sekitar 14%. 

Dalam penelusuran data sekunder lebih lanjut (2009-2011), yang diterbitkan oleh berbagai institusi misalnya Badan Pusat Statistik dan Kementerian Pertanian, dengan informasi yang lebih lengkap secara nominal, bahwa produksi minyak sawit (CPO) pada tahun 2009 mencapai 19,3 juta ton; dengan asumsi harga CPO pasar lokal rata-rata Rp7 juta per ton, maka nilai produknya adalah Rp135,3trilyun. Sementara itu nilai PDB pertanian, PDB non migas dan PDB total atas dasar harga berlaku, berturut-turut adalah Rp857,2 trilyun, Rp5.141,4 trilyun dan Rp5.606,2 trilyun; sehingga peranan produksi minyak sawit terhadap PDB pertanian, PDB non migas dan PDB total berturut-turut adalah 15,8%, 2,6% dan 2,4%. 

Jika perkembangan PDB ini terus dilakukan pengamatan, terlihat bahwa dari waktu ke waktu selalu mengalami pertumbuhan, sebagaimana PDB (total) atas harga berlaku, pada tahun 2010 meningkat menjadi Rp6.436,3 trilyun, dan PDB 2011 naik menjadi Rp7.427,1 trilyun. Selama tahun 2011, semua sektor (lapangan usaha) pendukung bidang ekonomi mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada Sektor Pengangkutan dan Komunikasi yang mencapai 10,7%, diikuti oleh Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran 9,2%, Sektor Keuangan, Real Estat, dan Jasa Perusahaan 6,8%, Sektor Jasa-Jasa dan Sektor Konstruksi masing-masing 6,7%, Sektor Industri Pengolahan 6,2%, Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih 4,8%, Sektor Pertanian 3,0%, dan Sektor Pertambangan dan Penggalian 1,4%. 

Pada tahun 2011 (sampai dengan Triwulan III), PDB sektor pertanian (di luar perikanan dan kehutanan) tumbuh sebesar 3,07%, di mana tingkat pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tahun 2010 yang hanya 2,86%. Pertumbuhan tersebut berasal dari sub sektor perkebunan (6,06%), disusul dengan sub sektor peternakan (4,23%), dan sub sektor tanaman pangan (1,93%). Kontribusi PDB sektor pertanian (di luar perikanan dan kehutanan) terhadap PDB nasional pada tahun 2011 tersebut mencapai 11,88%, lebih tinggi dibandingkan tahun 2010 yang mencapai 11,49%. Data terkait menunjukkan pula bahwa kontribusi subsektor perkebunan terhadap PDB nasional nonmigas adalah 2,9%. Selanjutnya data BPS juga menunjukkan, nilai PDB sektor perkebunan terus mengalami peningkatan dengan laju antara 9,42% hingga 11,68% per tahun.

Pertumbuhan PDB (seluruh sektor) tanpa migas pada tahun 2011 mencapai 6,9% dan pertumbuhan PDB secara keseluruhan besarnya 6,5%. Untuk menjamin kontinyuitas pertumbuhan sektor pertanian (sebagai komponen bidang ekonomi) di masa mendatang, maka investasi yang ditanamkan meliputi Investasi PMDN sebanyak 274 proyek, dengan nilai Rp.8,23triliun; PMA 246 proyek, dengan nilai US$1,03 milyar (angka s/d 30 September 2011).

Kedua. Peranannya dalam penyerapan tenaga kerja. Pada tahun 1961, sektor pertanian mampu menampung 73,3% tenaga kerja kemudian pada tahun 1971 dan 1980 berturut-turut dapat menyerap  64,2% dan 54,8%. Selanjutnya selama periode 1988-1993 dan 1994-2005 sektor ini berturut-turut mampu menyerap rata-rata 54,4% dan 44,2%. Maka dari itu dapat dikatakan bahwa peranan sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja sangat besar karena sekitar 50% dari tenaga kerja yang tersedia dapat dipekerjakannya. Untuk informasi jumlah secara absolut, bahwa penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian pada tahun 2011 mencapai 39,3juta orang (angka s/d Agustus 2011).

Selanjutnya, penyerapan tenaga kerja di subsektor perkebunan kelapa sawit juga cukup besar; dengan asumsi setiap sepuluh ha luas lahan perkebunan diperlukan rata-rata 4 orang tenaga kerja lapangan, maka perkebunan kelapa sawit yang pada tahun 2011 seluas sekitar 8,9 juta ha akan dapat menyerap sekitar 3,5 juta orang, dan ditambah lagi di bagian pengangkutan, pengolahan dan laboratorium akan menyerap 500 ribu orang. Jika dihitung juga tenaga kerja administrasi kebun, panen, angkutan, pengolahan dan laboratorium secara total kebutuhan tenaga kerja pada subsektor perkebunan kelapa sawit dapat mencapai 4,5 juta orang.  

Ketiga. Dalam perolehan hasil ekspor seluruh komoditi, peranan pertanian pada tahun 1970, 1971 dan 1973 berturut-turut adalah 44%, 37% dan 49%. Dengan berkembangnya ilmu dan teknologi yang diadopsi oleh sektor riil menyebabkan peranan ekspor pertanian mengalami penurunan meskipun secara absolut nilai ekspor pertanian tetap meningkat. Sebagai contoh perkembangan ekspor hasil pertanian pada tahun 2009, meskipun peranannya hanya tinggal sekitar 24% tetapi nilai ekspornya mencapai US$23,04 milyar. 

Ekspor hasil pertanian ini pada 2009-2010 juga mengalami peningkatan, yaitu pada 2009 nilainya sebesar US$23,04 milyar, meningkat menjadi US$32,52 milyar pada 2010. Selanjutnya peranan ekspor pertanian terhadap ekspor non migas pada kurun waktu 2009 dan 2010 berturut-turut adalah adalah 23,6% dan 25,1%. Kemudian peranan ekspor pertanian terhadap ekspor keseluruhan pada 2009 dan 2010 berturut-turut adalah adalah 19,8% dan 20,6%.

Untuk komoditas minyak sawit yang merupakan komponen sektor pertanian, pada 2009 nilai ekspor CPO dan PKO beserta produk turunannya mencapai US$ 11,6 milyar; sementara itu nilai ekspor non migas dan ekspor keseluruhan berturut-turut adalah US$97,5 milyar dan US$116,5 milyar. Hal ini berarti  kontribusi minyak sawit (khususnya CPO dan PKO serta produk turunannya) terhadap nilai ekspor non migas dan ekspor secara keseluruhan adalah sekitar 11,9% dan 10%. 

Selanjutnya pada 2011, volume ekspor produk CPO tercatat meningkat sebesar 5,7% dibanding pada 2010. Volume ekspor CPO juga meningkat dari 15,656 juta ton pada 2010 menjadi 16,5 juta ton. Jika diasumsikan rata-rata harga ekspor CPO selama 2011 yang dihitung berdasar asumsi bahwa harga CPO adalah US$ 1.000 per ton, maka perkiraan nilai ekspor CPO mencapai US$16,5 milyar. Menurut GAPKI, perkiraan target produksi CPO Indonesia pada tahun 2011 mencapai 23,5 juta ton CPO. 

Sebagai gambaran, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor lemak dan minyak nabati (termasuk CPO) periode Januari-November 2011 mencapai US$19,717 milyar, meningkat dari periode yang sama tahun 2010 yaitu sebesar US$14,164 milyar. Informasi catatan neraca perdagangan juga mengalami surplus, yaitu sebesar US$17,02 milyar (angka s/d September 2011).

Data pada Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (PPHP) Kementerian Pertanian juga menunjukkan bahwa nilai ekspor hasil subsektor perkebunan mengalami peningkatan dari US$21,58 milyar pada tahun 2009 menjadi US$30,7 milyar, atau dengan laju 42,26% per tahun. Sedangkan penerimaan negara yang dihasilkan dari industri sawit dalam bentuk lain, misalnya  bea keluar, pajak penghasilan badan, pajak bumi dan bangunan, pajak pertambahan nilai dan lain-lainnya, yang jumlahnya cukup besar. (Bersambung…)

Oleh: Teguh Wahyono Dan Rizki Amalia, Peneliti Sosial Ekonomi Pada Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan (Bagian Pertama)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.