Highlight Industri Kelapa Sawit Nasional 2015 (Menyongsong Kinerja Unggul 2016) Oleh : Ir.H.Said Nizam Luthfi, MM*

(Bagian Pertama)

The potential for oil palm production increased in Indonesia is still quite large, including the opening of the palm plantation in border of Kalimantan island. We still have a lot of potential to increase production. If the CPO price is too high CPO producers would likely go bankrupts the market will shift to other vegetable oils. Soybean oil prices and a few oil (rapeseed oil) should still be monitored, Indonesia should keep the price of crude palm oil (CPO) does not jump too high next year, so that Indonesian CPO can compete with other vegetable oils in the export market, mainly soybean oil, and still vast opportunities open up new agricultural lands, this is the advantage of Indonesia. Increased production does not have to open up new land, but it can be done with there juvenation program (replanting) and is currently the program already exists.

Indonesia harus menjaga agar harga minyak sawit mentah (CPO) tidak melonjak terlalu tinggi tahun depan. Harga CPO sampai di atas kapal (free on board/FOB) idealnya maksimum US$550 per ton. Dengan demikian, CPO Indonesia bisa bersaing dengan minyak nabati lain di pasar ekspor terutama minyak kedelai (soybean oil).

Harga CPO saat ini telah mencapai titik terendah US$ 570-580 per ton. Diprediksi, harga CPO bergerak naik di kisaran US$ 600-800 per ton tahun depan. Lonjakan harga tersebut diprediksi akibat kebijakan wajib penggunaan biodiesel yang akan menyerap lebih banyak CPO Indonesia dan produksi minyak sawit dunia tahun 2016 yang diprediksi bakal stagnan akibat El Nino.

Minyak kedelai di pasar ekspor tidak mungkin dijual US$ 400 per ton, minimal di atas US$ 600 per ton karena biaya produksinya mahal. Apabila harga minyak kedelai di atas US$600 per ton dan CPO US$550, tentu yang dikejar konsumen dunia adalah CPO. Agar harga CPO tetap di level US$550 per ton. Indonesia harus mendongkrak  produksi CPO dengan tetap meningkatkan konsumsi domestik. “Kita harus jaga jangan sampai harga CPO melonjak terlalu tinggi supaya bisa bersaing di pasar ekspor.”

Potensi peningkatan produksi kelapa sawit di Indonesia masih cukup besar, termasuk pembukaan lahan sawit di perbatasan di pulau Kalimantan. “Kita masih memiliki banyak potensi untuk menaikkan produksi. Kalau harga CPO terlalu tinggi, produsen CPO justru akan bangkrut karena pasar akan beralih ke minyak nabati lainnya. Harga minyak kedelai dan minyak rapa (rapeseed oil) harus tetap dipantau.”

Dengan kemampuan produktivitas per hektar (ha) yang tinggi dan masih luasnya peluang membuka lahan kebun baru, ini merupakan keunggulan Indonesia. Peningkatan produksi tidak harus dengan membuka lahan baru, tapi bisa dilakukan dengan program peremajaan (replanting) dan saat ini program itu sudah ada.

Produktivitas lahan sawit di dalam negeri dan potensi penambahan produksi masih bisa dilakukan, meski harga FOB untuk CPO US$ 550 per ton, harga Tandan Buah Segar (TBS) masih bisa mencapai RP 2.000 per kilogram (kg) atau naik dari saat ini Rp 1.200 per kg. Jadi, kalau ada produsen CPO mau harga tinggi, itu hanya ingin bisnis jangka pendek, bukan jangka panjang. Harus disadari, berbisnis CPO bukan hanya soal harga, tetapi juga bagaimana mensejahterakan karyawan perkebunan khususnya dan petani sawit Indonesia pada umumnya.

Dengan adanya kebijakan wajib pencampuran biodiesel 15% (B15) dan B20, penyerapan CPO untuk biodiesel akan semakin bertambah. Selain itu untuk konsumsi domestik yang memang diwajibkan, biodiesel juga menjadi komoditas yang bisa diekspor. Sebab, biodiesel bukan lagi energi alternatif, tapi energi masa depan. Saat ini saja, kapasitas biodiesel Nasional bisa 5,2 juta ton. dengan B20, kapasitas nasional bisa mencapai 7,2 juta ton.

Minyak kedelai dan minyak rapa saat ini terus berusaha menggerogoti pasar minyak sawit. Persaingan yang terjadi saat ini bukan antara produsen CPO seperti Indonesia dan Malaysia, melainkan antara komoditas minyak nabati.

GAPKI mengutip data USDA menyatakan, produksi CPO nasional tahun depan mencapai 35 juta ton. Sedangkan permintaan minyak sawit dunia akan meningkat 3,2 juta ton dari 59,3 juta ton menjadi 62,5 juta ton pada 2016.

Prospek Harga

Beberapa analis dan pelaku pasar pesimistis terhadap realisasi harga biodiesel B15 Indonesia dan B10 Malaysia bisa sesuai rencana. Sepanjang tahun ini (2015), harga CPO bisa dibilang cukup beruntung dibandingkan dengan komoditas lainnya. Pasalnya, secara year to date, harga sawit di bursa Malaysia naik 2,7%. Sampai pada penutupan perdagangan di akhir November 2015, harga CPO di Bursa Malaysia turun 1,13% menjadi RM 2.266 per ton.

Kemudian, pada tahun 2015 sempat muncul harapan harga CPO kembali melonjak ke RM 3.000 setelah harga sawit menyentuh level RM 2.400. Beberapa analis memproyeksikan tahun ini menjadi momen indah CPO karena mendapatkan dua dukungan pertama dampak El Nino terparah setelah 1998 dan kedua, berusaha optimis kalau serapan biodiesel Indonesia sesuai rencana.

Sayangnya, semakin menjelang penutupan tahun 2015 optimisme berubah menjadi pesimisme. Beberapa analis memperkirakan harga CPO bisa ke level RM 2.600 pada 2016 tetapi itu hanya jangka pendek, atau bukan tren berkelanjutan hingga level RM3.000.

Pada tahun ini, harga CPO berpeluang naik ke angka RM 2.600 lebih besar dibandingkan proyeksi sebelumnya di level RM 2.500.Tetapi, dengan catatan, untuk bisa RM2.600 ringgit, harga CPO menunggu momentum nilai tukar ringgit terpuruk melewati level RM4,5 ringgit per dolar AS. Harga CPO bisa ke RM 2.600 apabila harga minyak mentah kembali ke US$ 60 pada tahun ini.

Salah satu faktor penggerak utama harga CPO untuk tahun ini yaitu pertumbuhan produksi melambat menjadi 1 juta ton daripada sebelumnya sebesar 1,5 juta ton. Sementara itu, realisasi penyerapan  biodiesel Indonesia sesuai rencana awal menjadi faktor kuat penggerak harga CPO. Diperkirakan serapan biodiesel Indonesia terhadap pasokan CPO sekitar 220.000 ton per bulan pada 2016.

 (Selengkapnya baca Majalah SAWIT INDONESIA Edisi 15 Januari 2016-15 Februari 2016)

 

 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.